Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki pikiran,
dimana setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Kejadian yang pernah
dialami manusia dan kesadaran yang ada di dalam diri manusia akan mempengaruhi
pola pikir manusia. Pola pikir manusia yang berbeda tersebut tentu mempengaruhi
setiap tindakan-tindakan yang dilakukan dalam berhubungan sosial, sehingga
terbentuk suatu kebiasaan yang secara perlahan menjadi aturan-aturan yang
mengatur hidup suatu kelompok yang terdiri dari individu-individu.
Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian disepakati sehingga menjadi budaya yang
mengikat kelompok tersebut dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Kebudayaan
ini bersifat dinamis, karena pola pikir manusia yang senantiasa berkembang dari
waktu ke waktu. Demikianlah yang terjadi dalam kehidupan bangsa Batak, yang
mengalami perubahan dari zaman primitif hingga kepada zaman modern. Dalam
proses perubahan ini tentu ada yang ditinggalkan dan ada yang dipertahankan,
dan perubahan ini juga tidak dapat dihindarkan dari pengaruh eksternal, seperti
kedatangan bangsa lain yang membawa budaya yang berbeda dengan budaya Batak.
Bangsa Batak Kuno yang masih berada dalam zaman primitif
pada dasarnya berpola pikir inklusif atau sintesis, dimana mereka meyakini
bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan memiliki
hubungan satu sama lain. Hal ini dipengaruhi dari kondisi sosial dan kesadaran
manusia primitif yang memandang segala sesuatunya bukan dari realitas, namun
adanya kekuatan supranatural yang bekerja dan memiliki kuasa untuk mengatur
alam, atau disebut dengan istilah animistis. Kekuatan supranatural tersebut
diyakini berasal dari roh-roh nenek moyang , roh-roh alam, roh yang disembah,
dan roh yang diberi sesajen yang tinggal atau berada di sekitar bangsa Batak[1],
atau dengan kata lain hidup bersama-sama dengan bangsa Batak. Ini merupakan kepercayaan orang Batak yang beranggapan bahwa alam roh merupakan
bagian dari populasi kosmos.[2]
Roh-roh memiliki hubungan erat dengan pemahaman bangsa
Batak kuno terhadap kematian. Bangsa Batak meyakini setelah kematian, roh
tersebut akan menjadi “begu” dan apa yang dilakukan selama kehidupannya
di bumi akan dibawa sampai pada kehidupan setelah kematian.[3]
Perlu diketahui, bahwa begu pada umumnya dipandang sebagai roh yang sebelumnya
mengalami kematian secara tidak sempurna.[4]
Dan roh yang mengalami kematian secara sempurna disebut dengan istilah sombaon
yang disembah karena dapat membantu dan
memberikan mereka berkat.[5]
Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Batak mempercayai bahwa ada dua alam yang berlangsung
bersamaan, yaitu alam manusia dan alam roh.
I.
Isi
Bangsa Batak memahami tiga unsur yang membuat manusia itu
menjadi ada, yaitu Tondi, Tubuh dan Sahala. Tondi merupakan daya
hidup yang membuat seseorang itu dapat melakukan aktifitasnya sebagai manusia,
yaitu roh; hidup; nafas. Tubuh menjadi wadah tondi, sehingga tondi menjadi
milik pribadi tubuh karena hanya ada satu tubuh untuk satu tondi. Sahala ini
lah yang merupakan aktualisasi atau realisasi daripada daya tersebut, sehingga
orang lain dapat merespon daya tersebut[6].
Namun setelah kematian, tubuh akan terpisah dengan tondi
(roh). Orang Batak meyakini roh yang telah terpisah ini akan tetap ada dan
hidup di alam roh. Roh-roh inilah yang disebut bangsa Batak sebagai begu
ataupun sumangot yang tinggal di bumi bersama manusia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pdt. Hisar
Sitorus yang melayani di Gereja HKI mengatakan bahwa orang Batak kuno
memandangan bahwa begu itu ada dan hidup bersama-sama dengan orang Batak. Orang
Batak membedakan begu ke beberapa jenis, yaitu:
a. Sumangot/Sahala
Ni Da Ompu
b. Begu Na
Maot-aot
c.
Begu Jau
d. Begu
Attuk
e. Begu
Nur-nur
f.
Begu Na So Hasea
g.
Begu Ganjang
h. Pangulubalang
Namun perlu diketahui, bahwa orang Batak percaya bahwa ada begu yang
bersifat baik, dimana begu ini mau membantu dan memberkati manusia dalam
perjalan hidupnya, sementara itu ada pula begu yang bersifat jahat, karena begu
ini suka mengganggu dan bahkan membunuh manusia. Hal ini dipengaruhi oleh proses kematian yang
mendorong si begu untuk memberkati, menolong, dan bahkan membunuh. Karena orang
Batak mempercayai bahwa di dunia begu terjadi interaksi yang sama dengan yang
terjadi di dalam kehidupan manusia[7],
dan perlu diketahui bahwa interaksi ini dipengaruhi juga dari kehidupan orang
Batak sebelum kematian. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang Batak mempercayai
bahwa manusia akan membawa semua kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya di
kehidupan manusia sampai pada kehidupan setelah kematian.
Berikut penjelasan akan
jenis-jenis begu berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pdt. Hisar Sitorus,
yaitu:
a. Sumangot/Sahala
Ni Da Ompu
Begu ini disebut dengan kata Sumangot yang menunjukkan
bahwa kelas atau derajat roh ini merupakan kelas tertinggi. Di dunia roh,
sumangot betul-betul dihargai dan disegani oleh roh-roh lain. Hal ini dapat
terjadi ketika orang Batak yang memiliki keturunan yang seluruhnya telah
menikah, sehingga memiliki cucu yang akan membawa namanya (panggoaran)
dan bahkan bercicit (marnini marnono), dimana dalam budaya Batak
dikatakan dengan istilah Saor Matua[8]. Dan
ketika orang Batak yang memiliki keturunan dan sudah bercucu walau semua
anaknya belum menikah meninggal, yang dalam budaya Batak dikatakan dengan
istilah Sari Matua[9].
Rohnya akan disebut dengan istilah Sumangot Ni Da Ompu, karena semasa
hidupnya di dunia telah mendapat Hamoraon (kekayaan), Hagabaeon (kejayaan),
dan Hasangapon (kehormatan) yang menjadi impian setiap orang Batak.
Orang Batak Kuno memiliki kebiasaan untuk membuat
persembahan (pelean) bagi mereka yang mati saor matua dan sari matua oleh
keluarganya, dimana hal ini membuat rohnya semakin disanjung di dunia roh. Ini dapat
dilihat dari makanan-makanan yang diletakkan di kuburan, dan itu dapat berupa
buah-buahan atau makanan khas batak, seperti itak gurgur. Hal ini dilakukan
orang Batak untuk meminta berkat dan pertolongan dari roh atau sumangot
tersebut[10]. Misalnya
untuk mendapat kemudahan dalam pencarian kerja ataupun kesuksesan pertanian
mereka. Pemberian persembahan tidak harus di kuburan, tetapi di rumah juga bisa
dilakukan. Orang Batak meyakini bahwa makanan yang mereka persembahkan itu akan
dimakan oleh sumangot yang ditandai dengan kondisi makanan yang berubah menjadi
dingin. Dan di duniah roh pun sumangot tersebut akan memamerkan apa yang
dilakukan oleh keturunannya dan terkadang persembahan itu dibagi-bagikan dengan
roh-roh lain sehingga sumangot itu disegani di dunia roh. Sumangot ini sering
juga disebut dengan istilah sombaon (yang di sembah), karena disembah
oleh keturunannya sehingga memiliki kedudukan yang khusus di dalam dunia roh[11].
Pemahaman ini lah yang dipegang orang Batak pada zama
dahulu, sehingga orang Batak akan sangat bersedih ketika mereka tidak mempunyai
keturunan, karena mereka akan mengalam penderitaan di dunia manusia dan di
dunia roh. Di dunia roh, mereka tidak mendapat persembahan karena mereka tidak
memiliki keturunan, dan hal ini akan membuat roh mereka akan disingkirkan dan
diasingkan.
b. Begu Na
Maot-aot
Begu ini merupakan orang Batak yang meninggal, namun dia
tidak memiliki keturunan walau sudah menikah, sehingga tidak ada yang memberi
persembahan baginya. Dalam bangsa Batak, kematian seperti ini disebut dengan
istilah Mate Makkar[12]. Hal
ini membuatnya disingkirkan atau diasingkan di dunia roh. Misalnya seorang
perempuan boru Sitorus menikah dengan marga Sinaga. Dalam budaya Batak, boru
Sitorus akan dibawa ke dalam keluarga besar Sinaga atau dengan kata lain boru
Sitorus merupakan tamu dan dia menjadi bagian dari keluarga Sinaga karena yang
menikahinya bermarga Sinaga. Ketika marga Sinaga ini meninggal maka boru
Sitorus akan dikembalikan ke keluarga atau kampungnya. Hal ini tetap berlaku di
dalam dunia roh, dimana ketika boru Sitorus meninggal maka roh nya harus
kembali ke kampungnya, karena dirinya merupakan tamu di kampung itu. Namun,
walaupun roh boru Sitorus telah kembali ke kampungnya atau asalnya bukan berarti
roh nya diterima begitu saja oleh roh-roh lain. Roh boru Sitorus ini akan tetap
disingkirkan, karena dia telah meninggal secara tidak wajar dan tidak ada yang
memberikannya persembahan.
c.
Begu Jau
Begu jau merupakan salah satu begu yang disingkirkan dari
dunia roh atau dengan kata lain, tidak memiliki teman di dunia roh. Sehingga
begu ini suka mencari manusia lain untuk diganggu dan bahkan diambil rohnya
dengan tujuan untuk mecari teman, sehingga begu ini tidak sendiri lagi dan
menderita di dunia roh karena tidak memiliki teman.
Pengalaman yang dialami Bapak Pdt. Hisar Sitorus mengenai
begu jau ini terjadi pada tahun 1970 di Sidingkalang. Dimana pada saat itu ada
seorang Ibu boru Gultom sedang melahirkan. Orang Batak mengenal budaya melek-melekan
yang dilaksanakan seminggu setelah salah satu warga kampung melahirkan. Dalam
seminggu itu orang-orang kampung akan berkumpul di rumah yang melahirkan
tersebut. Orang Batak meyakini bahwa seminggu sebelum dan setelah melahirkan,
roh seorang ibu akan sangat lemah dan sangat mudah untuk diganggu. Hal ini
terjadi ketika boru Gultom tersebut selalu mimpi buruk setelah dirinya
melahirkan. Kemudian pada hari ke-empat setelah boru Gultom melahirkan, dirinya
dirasuki oleh begu. Salah seorang yang berkumpul ditempat itu yang sedang melek-melekan
dengan sigap memegang dan menekan telapak kaki si boru Gultom, dan kemudian
menanyakan siapa yang merasuki boru Gultom tersebut. Lalu begu yang merasuki
itu menjawab, bahwa dia adalah si boru Siahaan yang meninggal ketika dia hamil
dulu. Orang-orang yang berkumpul di rumah itu mengenal boru Siahaan ini, karena
dia adalah warga kampung mereka yang menikah dengan marga Pangaribuan, namun
meninggal seminggu yang lalu ketika dirinya sedang hamil 5 bulan. Kemudian
orang yang memegan kaki boru Gultom ini bertanya kepada begu boru Siahaan
tersebut tentang mengapa dia merasuki dan mengganggu boru Gultom tersebut. Begu
boru Siahaan mengatakan bahwa sebulan yang lalu dia sudah mencium sesuatu yang
harum dari boru Gultom tersebut, dan setelah dia mengetahu bahwa boru Gultom
tersebut sudah melahirkan begu Siahaan ini sudah berada diluar rumah mengintip
dan dia tidak sendiri, masih ada begu-begu lain yang menunggu. Kemudian begu
boru Siahaan yang merasuki si boru Gultom mengatakan bahwa pada hari ke-dua
setelah boru Gultom melahirkan ada yang melemparkan garam ke matanya ketika dia
mengintip dan itu sangat menyakiti matanya. Lalu begu boru Siahaan mengatakan
bahwa dia ingin mengambil roh boru Gultom supaya dia mempunyai teman di dunia
roh, hal ini dilakukan boru Siahaan karena di dunia roh dia selalu disingkirkan
dan diasingkan, bahkan ketika berjalan pun dia harus berjalan dari samping
supaya tidak bertabrakan dengan begu-begu yang lain. Itulah alasan mengapa begu
boru Siahaan mengganggu roh boru Gultom yang masih lemah karena baru
melahirkan.
d. Begu
Attuk
Begut Attuk merupakan begu yang berada
ditempat-tempat keramat dan tempat yang dianggap penting dan bermanfaat bagi
manusia ataupun makhluk hidup lainnya, dan perlu diketahu bahwa orang Batak
sangat menghargai anugerah-anugerah yang telah diberikan oleh mereka yang
berkuasa. Jenis begu ini tidak bersifat jahat, namun ketika seseorang melakukan
kesalahan atau melanggar nilai moral (kesopanan) maka begu ini akan menampar
dan bahkan memukul seseorang tersebut. Misalnya pada sumber mata air yang
berguna bagi makhluk hidup dan ada orang yang mengotori atau berlaku buruk maka
begu attuk akan memukul atau menamparnya. Dari nama begu ini pun sudah dapat disimpulkan,
karena attuk (bahasa Batak) berarti pukul dalam bahasa Indonesia.
e. Begu
Nur-nur
Orang Batak meyakini bahwa begu nur-nur merupakan
begu yang membuat seseorang sakit, karena pemikiran orang Batak kuno yang belum
melihat realitas dan hanya menimbang pada kekuatan supranatural. Sehingga
setiap ada orang yang sakit atau mati karena penyakit maka hal itu dianggap
karena perbuatan begu nur-nur. Jadi, begu nur-nur masuk ke dalam jenis begu
yang jahat bagi budaya Batak.
f.
Begu Na So Hasea
Begu na so hasea merupakan begu yang proses
meninggalnya tidak wajar, misalnya karena kecelekaan, bunuh diri, mati hamil
dan bahkan mati Tilaha, yaitu dengan status belum menikah walau dia
sudah tua ataupun masih anak-anak[13].
Hal ini membuat begu ini disingkirkan dalam dunia roh dan bahkan diasingkan.
Begu ini termasuk ke dalam jenis begu yang jahat, karena begu ini sangat suka
mengganggu manusia. Yang paling jahat dalam begu ini adalah dia yang mati pada
saat hamil, dimana begu ini suka menunjukkan diri dan mengeluarkan suara yang
menakutkan. Dan begu yang mati hamil akan semakin jahat apabila yang
dikandungnya diambil dari kuburan demi kepentingan pribadi.
Orang Batak mempercayai bahwa apa yang dilakukan
dalam kehidupan nyata akan dibawa sampai pada kematian dan bahkan ke dalam
dunia roh. Orang Batak yang semasa hidupnya memiliki kekuatan mistis yang
dipelajari dari guru-guru, karena pendidikan bangsa Batak pada zaman dulu
adalah penguasaan terhadap kekuatan supranatural seperti menghilang,
menerbangkan benda mati dan lainnya, namun pada saat kematiannya terjadi secara
tidak wajar akan membuat roh nya menjadi begu yang sangat kejam karena bisa
saja begu nya membunuh manusia. Begu na so hasea inilah yang paling sering
mengganggu manusia.
g. Begu
Ganjang
Begu ganjang merupakan begu yang berisfat jahat, dan
dari antara semua begu yang jahat dalam bangsa Batak, begu ganjanglah yang
paling buruk. Begu ini ada karena perbuatan manusia yang memeliharanya untuk
melakukan kejahatan. Begu ganjang sangat dekat hubungannya dengan hasipelebeguon,
yaitu orang Batak yang menyembah dan mempermuliakan roh-begu[14].
Begu ganjang berasal dari mayat bayi ataupun
anak-anak yang berusia 2 tahun ke bawah yang disebut sebagai “orok”,
dimana orok tersebut dimasukkan ke dalam peti. Kemudian disembah, diberikan
persembahan-persembahan, dan bahkan dinyanyikan. Hal ini akan terus dilakukan
sampai roh orok tersebut tunduk kepada pemeliharanya. Roh bayi tersebut lah
yang menjadi begu dan dapat diperintahkan oleh pemeliharanya. Begu ganjang ini
pada dasarnya untuk membunuh musuh atau seseorang demi kepentingan pribadi,
karena sejak awal begu ini diajarkan untuk membunuh yang pada umumnya dengan
cara mencekik.
Begu ini disebut begu ganjang karena pada saat
diperintahkan untuk membunuh seseorang, begu ini akan hadir tepat didepan orang
yang akan dibunuh tersebut untuk menarik perhatian yang akan dibunuh untuk
memperhatikan begu ini dan apabila dilihat ke atas maka wujud begu ini akan
semakin tinggi sehingga leher yang akan dibunuh akan terbuka dan mudah untuk
dicekik atau dibunuh. Inilah alasan mengapa begu ini disebut dengan istilah
begu ganjang. Namun, begu ganjang disebut juga sebagai pangulu baling,
yang dapat dikendalikan untuk hal-hal negatif[15].
Berdasarkan wawancara terhadap Ibu boru Gultom, yang
pada masa mudanya beliau pernah menyaksikan ditangkapnya begu ganjang oleh
orang kampung Ibu tersebut. Dimana kejadiannya berawal dari seorang pemuda yang
tidak dikenal masuk ke rumah tetangga Ibu boru Gultom, dan tiba-tiba pemuda
tersebut berlari keluar rumah, dimana kepala keluarga tetangga Ibu tersebut
mengejar si pemuda. Kemudian pemuda yang tidak dikenal ini masuk ke dalam rumah
yang lain dan tiba-tiba berubah wujud menjadi boneka. Bapak yang mengejar tadi
menangkap boneka tersebut dengan genggaman yang kuat, dan dihadapan banyak
orang boneka tersebut menangis dan menjerit kesakitan. Lalu bapak tersebut
menanyakan asal usul begu yang ada di dalam boneka itu, dan boneka itu menjawab
bahwa ketika dia meninggal bayi, mayatnya diambil oleh seseorang dan sejak
kecil dipelihara dan diberi makanan. Dia mengatakan bahwa dia diajari untuk
membunuh dengan cara mencekik, dan dia datang ke rumah itu karena disuruh oleh
majikannya.
h. Pangulubalang
Pangulubalang adalah roh yang dipelihara untuk
menjaga orang Batak dari marabahaya yang datang. Begu ini disembah oleh orang
batak, sehingga begu ini masuk ke jenis begu yang di sembah atau dalam budaya
Batak disebut dengan istilah sombaon[16].
Pangulubalang ini dipelihara dan diberi makanan, seperti nasi, telor ayam dan
bahkan daging. Hal ini dilakukan agar begu ini tunduk dan mau melakukan
perintah pemeliharanya untuk menjaga dan melindungi dirinya dari
serangan-serangan musuh. Pangulubalang ini biasanya dibuat di suatu kampung,
dan apabila bahaya dari musuh datang maka begu ini akan melawan musuh tersebut
atau memberitahukannya kepada orang Batak yang tinggal di kampung itu, yang
biasanya melalui suara binatang, seperti burung, anjing dan ayam. Terkadang
begu ini juga diperintahkan untuk menyerang musuh pemeliharanya. Perlu
diketahui bahwa pangulubalang tidak pernah disembah untuk mendapat kehidupan[17].
Namun, berdasarkan sumber yang lain mengenai
pemahaman orang Batak mengenai begu menyatakan bahwa ada dua kelas roh yang
diakui oleh bangsa Batak[18],
yaitu:
a. Begu
Begu adalah seorang manusia yang meninggal secara tidak
sempurna atau tidak wajar, dan pada masa hidupnya berkelakuan buruk dan jahat
terhadap manusia lain dan bahkan terhadap alam.
b. Sombaon
Sombaon merupakan roh yang semasa hidupnya memiliki
pengaruh yang besar dalam budaya orang Batak, dan secara adat sudah dikatakan
saor matua atau sari matua. Misalnya sosok Sisingamangaraja yang merupakan
sombaon bagi orang Batak, karena memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan
orang Batak. Roh yang masuk ke dalam kelas sombaon adalah:
-
Pangulubalang
-
Boru Saniang Naga atau
-
Boraspati Ni Tano
Roh yang masuk ke dalam kelas sombaon ini akan mendapat keistimewaan di
dunia roh, yaitu kedudukan khusus, sehingga dihormati dan disegani oleh roh-roh
(begu) yang berada di sekitarnya.
[1] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 190
[2] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107
[3] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[4] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak:
Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 191
[5] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107 dan 114
[6] Lih. Dr. Anicetus B. Sinaga, Allah
Tinggi Batak Toba: Transendensi dan Imanensi, (Yogyakarta: PT Kasianus,
2014), Hlm. 124-125
[7] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[8] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 102-104
[9] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 101-102
[10] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108-109
[11] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 191
[12] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 100
[13] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 99
[14] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 193
[15] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na
Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
2014), Hlm. 193
[16] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[17] Lih. Raja Patik Tampubolon, Pustaha
Tumbaga Holing: Adat Batak - Patik Uhum, (Jakarta: Penerbit Dian Utama dan
Kerabat, 2002), Hlm. 260-261
[18] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of
The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107
No comments:
Post a Comment