Thursday, 3 August 2017

BEGU DALAM BATAK



Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki pikiran, dimana setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Kejadian yang pernah dialami manusia dan kesadaran yang ada di dalam diri manusia akan mempengaruhi pola pikir manusia. Pola pikir manusia yang berbeda tersebut tentu mempengaruhi setiap tindakan-tindakan yang dilakukan dalam berhubungan sosial, sehingga terbentuk suatu kebiasaan yang secara perlahan menjadi aturan-aturan yang mengatur hidup suatu kelompok yang terdiri dari individu-individu. Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian disepakati sehingga menjadi budaya yang mengikat kelompok tersebut dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Kebudayaan ini bersifat dinamis, karena pola pikir manusia yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Demikianlah yang terjadi dalam kehidupan bangsa Batak, yang mengalami perubahan dari zaman primitif hingga kepada zaman modern. Dalam proses perubahan ini tentu ada yang ditinggalkan dan ada yang dipertahankan, dan perubahan ini juga tidak dapat dihindarkan dari pengaruh eksternal, seperti kedatangan bangsa lain yang membawa budaya yang berbeda dengan budaya Batak.
Bangsa Batak Kuno yang masih berada dalam zaman primitif pada dasarnya berpola pikir inklusif atau sintesis, dimana mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan memiliki hubungan satu sama lain. Hal ini dipengaruhi dari kondisi sosial dan kesadaran manusia primitif yang memandang segala sesuatunya bukan dari realitas, namun adanya kekuatan supranatural yang bekerja dan memiliki kuasa untuk mengatur alam, atau disebut dengan istilah animistis. Kekuatan supranatural tersebut diyakini berasal dari roh-roh nenek moyang , roh-roh alam, roh yang disembah, dan roh yang diberi sesajen yang tinggal atau berada di sekitar bangsa Batak[1], atau dengan kata lain hidup bersama-sama dengan bangsa Batak. Ini merupakan kepercayaan orang Batak yang beranggapan bahwa alam roh merupakan bagian dari populasi kosmos.[2]
Roh-roh memiliki hubungan erat dengan pemahaman bangsa Batak kuno terhadap kematian. Bangsa Batak meyakini setelah kematian, roh tersebut akan menjadi “begu” dan apa yang dilakukan selama kehidupannya di bumi akan dibawa sampai pada kehidupan setelah kematian.[3] Perlu diketahui, bahwa begu pada umumnya dipandang sebagai roh yang sebelumnya mengalami kematian secara tidak sempurna.[4] Dan roh yang mengalami kematian secara sempurna disebut dengan istilah sombaon yang disembah karena dapat membantu  dan memberikan mereka berkat.[5] Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Batak mempercayai bahwa ada dua alam yang berlangsung bersamaan, yaitu alam manusia dan alam roh.
 I.        Isi
Bangsa Batak memahami tiga unsur yang membuat manusia itu menjadi ada, yaitu Tondi, Tubuh dan Sahala. Tondi merupakan daya hidup yang membuat seseorang itu dapat melakukan aktifitasnya sebagai manusia, yaitu roh; hidup; nafas. Tubuh menjadi wadah tondi, sehingga tondi menjadi milik pribadi tubuh karena hanya ada satu tubuh untuk satu tondi. Sahala ini lah yang merupakan aktualisasi atau realisasi daripada daya tersebut, sehingga orang lain dapat merespon daya tersebut[6].
Namun setelah kematian, tubuh akan terpisah dengan tondi (roh). Orang Batak meyakini roh yang telah terpisah ini akan tetap ada dan hidup di alam roh. Roh-roh inilah yang disebut bangsa Batak sebagai begu ataupun sumangot yang tinggal di bumi bersama manusia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pdt. Hisar Sitorus yang melayani di Gereja HKI mengatakan bahwa orang Batak kuno memandangan bahwa begu itu ada dan hidup bersama-sama dengan orang Batak. Orang Batak membedakan begu ke beberapa jenis, yaitu:
a.     Sumangot/Sahala Ni Da Ompu
b.     Begu Na Maot-aot
c.      Begu Jau
d.     Begu Attuk
e.     Begu Nur-nur
f.       Begu Na So Hasea
g.      Begu Ganjang
h.     Pangulubalang
Namun perlu diketahui, bahwa orang Batak percaya bahwa ada begu yang bersifat baik, dimana begu ini mau membantu dan memberkati manusia dalam perjalan hidupnya, sementara itu ada pula begu yang bersifat jahat, karena begu ini suka mengganggu dan bahkan membunuh manusia.  Hal ini dipengaruhi oleh proses kematian yang mendorong si begu untuk memberkati, menolong, dan bahkan membunuh. Karena orang Batak mempercayai bahwa di dunia begu terjadi interaksi yang sama dengan yang terjadi di dalam kehidupan manusia[7], dan perlu diketahui bahwa interaksi ini dipengaruhi juga dari kehidupan orang Batak sebelum kematian. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang Batak mempercayai bahwa manusia akan membawa semua kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya di kehidupan manusia sampai pada kehidupan setelah kematian.
            Berikut penjelasan akan jenis-jenis begu berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pdt. Hisar Sitorus, yaitu:
a.     Sumangot/Sahala Ni Da Ompu
Begu ini disebut dengan kata Sumangot yang menunjukkan bahwa kelas atau derajat roh ini merupakan kelas tertinggi. Di dunia roh, sumangot betul-betul dihargai dan disegani oleh roh-roh lain. Hal ini dapat terjadi ketika orang Batak yang memiliki keturunan yang seluruhnya telah menikah, sehingga memiliki cucu yang akan membawa namanya (panggoaran) dan bahkan bercicit (marnini marnono), dimana dalam budaya Batak dikatakan dengan istilah Saor Matua[8]. Dan ketika orang Batak yang memiliki keturunan dan sudah bercucu walau semua anaknya belum menikah meninggal, yang dalam budaya Batak dikatakan dengan istilah Sari Matua[9]. Rohnya akan disebut dengan istilah Sumangot Ni Da Ompu, karena semasa hidupnya di dunia telah mendapat Hamoraon (kekayaan), Hagabaeon (kejayaan), dan Hasangapon (kehormatan) yang menjadi impian setiap orang Batak.
Orang Batak Kuno memiliki kebiasaan untuk membuat persembahan (pelean) bagi mereka yang mati saor matua dan sari matua oleh keluarganya, dimana hal ini membuat rohnya semakin disanjung di dunia roh. Ini dapat dilihat dari makanan-makanan yang diletakkan di kuburan, dan itu dapat berupa buah-buahan atau makanan khas batak, seperti itak gurgur. Hal ini dilakukan orang Batak untuk meminta berkat dan pertolongan dari roh atau sumangot tersebut[10]. Misalnya untuk mendapat kemudahan dalam pencarian kerja ataupun kesuksesan pertanian mereka. Pemberian persembahan tidak harus di kuburan, tetapi di rumah juga bisa dilakukan. Orang Batak meyakini bahwa makanan yang mereka persembahkan itu akan dimakan oleh sumangot yang ditandai dengan kondisi makanan yang berubah menjadi dingin. Dan di duniah roh pun sumangot tersebut akan memamerkan apa yang dilakukan oleh keturunannya dan terkadang persembahan itu dibagi-bagikan dengan roh-roh lain sehingga sumangot itu disegani di dunia roh. Sumangot ini sering juga disebut dengan istilah sombaon (yang di sembah), karena disembah oleh keturunannya sehingga memiliki kedudukan yang khusus di dalam dunia roh[11].
Pemahaman ini lah yang dipegang orang Batak pada zama dahulu, sehingga orang Batak akan sangat bersedih ketika mereka tidak mempunyai keturunan, karena mereka akan mengalam penderitaan di dunia manusia dan di dunia roh. Di dunia roh, mereka tidak mendapat persembahan karena mereka tidak memiliki keturunan, dan hal ini akan membuat roh mereka akan disingkirkan dan diasingkan.

b.     Begu Na Maot-aot
Begu ini merupakan orang Batak yang meninggal, namun dia tidak memiliki keturunan walau sudah menikah, sehingga tidak ada yang memberi persembahan baginya. Dalam bangsa Batak, kematian seperti ini disebut dengan istilah Mate Makkar[12]. Hal ini membuatnya disingkirkan atau diasingkan di dunia roh. Misalnya seorang perempuan boru Sitorus menikah dengan marga Sinaga. Dalam budaya Batak, boru Sitorus akan dibawa ke dalam keluarga besar Sinaga atau dengan kata lain boru Sitorus merupakan tamu dan dia menjadi bagian dari keluarga Sinaga karena yang menikahinya bermarga Sinaga. Ketika marga Sinaga ini meninggal maka boru Sitorus akan dikembalikan ke keluarga atau kampungnya. Hal ini tetap berlaku di dalam dunia roh, dimana ketika boru Sitorus meninggal maka roh nya harus kembali ke kampungnya, karena dirinya merupakan tamu di kampung itu. Namun, walaupun roh boru Sitorus telah kembali ke kampungnya atau asalnya bukan berarti roh nya diterima begitu saja oleh roh-roh lain. Roh boru Sitorus ini akan tetap disingkirkan, karena dia telah meninggal secara tidak wajar dan tidak ada yang memberikannya persembahan.      

c.      Begu Jau
Begu jau merupakan salah satu begu yang disingkirkan dari dunia roh atau dengan kata lain, tidak memiliki teman di dunia roh. Sehingga begu ini suka mencari manusia lain untuk diganggu dan bahkan diambil rohnya dengan tujuan untuk mecari teman, sehingga begu ini tidak sendiri lagi dan menderita di dunia roh karena tidak memiliki teman.
Pengalaman yang dialami Bapak Pdt. Hisar Sitorus mengenai begu jau ini terjadi pada tahun 1970 di Sidingkalang. Dimana pada saat itu ada seorang Ibu boru Gultom sedang melahirkan. Orang Batak mengenal budaya melek-melekan yang dilaksanakan seminggu setelah salah satu warga kampung melahirkan. Dalam seminggu itu orang-orang kampung akan berkumpul di rumah yang melahirkan tersebut. Orang Batak meyakini bahwa seminggu sebelum dan setelah melahirkan, roh seorang ibu akan sangat lemah dan sangat mudah untuk diganggu. Hal ini terjadi ketika boru Gultom tersebut selalu mimpi buruk setelah dirinya melahirkan. Kemudian pada hari ke-empat setelah boru Gultom melahirkan, dirinya dirasuki oleh begu. Salah seorang yang berkumpul ditempat itu yang sedang melek-melekan dengan sigap memegang dan menekan telapak kaki si boru Gultom, dan kemudian menanyakan siapa yang merasuki boru Gultom tersebut. Lalu begu yang merasuki itu menjawab, bahwa dia adalah si boru Siahaan yang meninggal ketika dia hamil dulu. Orang-orang yang berkumpul di rumah itu mengenal boru Siahaan ini, karena dia adalah warga kampung mereka yang menikah dengan marga Pangaribuan, namun meninggal seminggu yang lalu ketika dirinya sedang hamil 5 bulan. Kemudian orang yang memegan kaki boru Gultom ini bertanya kepada begu boru Siahaan tersebut tentang mengapa dia merasuki dan mengganggu boru Gultom tersebut. Begu boru Siahaan mengatakan bahwa sebulan yang lalu dia sudah mencium sesuatu yang harum dari boru Gultom tersebut, dan setelah dia mengetahu bahwa boru Gultom tersebut sudah melahirkan begu Siahaan ini sudah berada diluar rumah mengintip dan dia tidak sendiri, masih ada begu-begu lain yang menunggu. Kemudian begu boru Siahaan yang merasuki si boru Gultom mengatakan bahwa pada hari ke-dua setelah boru Gultom melahirkan ada yang melemparkan garam ke matanya ketika dia mengintip dan itu sangat menyakiti matanya. Lalu begu boru Siahaan mengatakan bahwa dia ingin mengambil roh boru Gultom supaya dia mempunyai teman di dunia roh, hal ini dilakukan boru Siahaan karena di dunia roh dia selalu disingkirkan dan diasingkan, bahkan ketika berjalan pun dia harus berjalan dari samping supaya tidak bertabrakan dengan begu-begu yang lain. Itulah alasan mengapa begu boru Siahaan mengganggu roh boru Gultom yang masih lemah karena baru melahirkan.

d.     Begu Attuk
Begut Attuk merupakan begu yang berada ditempat-tempat keramat dan tempat yang dianggap penting dan bermanfaat bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya, dan perlu diketahu bahwa orang Batak sangat menghargai anugerah-anugerah yang telah diberikan oleh mereka yang berkuasa. Jenis begu ini tidak bersifat jahat, namun ketika seseorang melakukan kesalahan atau melanggar nilai moral (kesopanan) maka begu ini akan menampar dan bahkan memukul seseorang tersebut. Misalnya pada sumber mata air yang berguna bagi makhluk hidup dan ada orang yang mengotori atau berlaku buruk maka begu attuk akan memukul atau menamparnya. Dari nama begu ini pun sudah dapat disimpulkan, karena attuk (bahasa Batak) berarti pukul dalam bahasa Indonesia.

e.     Begu Nur-nur
Orang Batak meyakini bahwa begu nur-nur merupakan begu yang membuat seseorang sakit, karena pemikiran orang Batak kuno yang belum melihat realitas dan hanya menimbang pada kekuatan supranatural. Sehingga setiap ada orang yang sakit atau mati karena penyakit maka hal itu dianggap karena perbuatan begu nur-nur. Jadi, begu nur-nur masuk ke dalam jenis begu yang jahat bagi budaya Batak.

f.       Begu Na So Hasea
Begu na so hasea merupakan begu yang proses meninggalnya tidak wajar, misalnya karena kecelekaan, bunuh diri, mati hamil dan bahkan mati Tilaha, yaitu dengan status belum menikah walau dia sudah tua ataupun masih anak-anak[13]. Hal ini membuat begu ini disingkirkan dalam dunia roh dan bahkan diasingkan. Begu ini termasuk ke dalam jenis begu yang jahat, karena begu ini sangat suka mengganggu manusia. Yang paling jahat dalam begu ini adalah dia yang mati pada saat hamil, dimana begu ini suka menunjukkan diri dan mengeluarkan suara yang menakutkan. Dan begu yang mati hamil akan semakin jahat apabila yang dikandungnya diambil dari kuburan demi kepentingan pribadi.
Orang Batak mempercayai bahwa apa yang dilakukan dalam kehidupan nyata akan dibawa sampai pada kematian dan bahkan ke dalam dunia roh. Orang Batak yang semasa hidupnya memiliki kekuatan mistis yang dipelajari dari guru-guru, karena pendidikan bangsa Batak pada zaman dulu adalah penguasaan terhadap kekuatan supranatural seperti menghilang, menerbangkan benda mati dan lainnya, namun pada saat kematiannya terjadi secara tidak wajar akan membuat roh nya menjadi begu yang sangat kejam karena bisa saja begu nya membunuh manusia. Begu na so hasea inilah yang paling sering mengganggu manusia.

g.     Begu Ganjang
Begu ganjang merupakan begu yang berisfat jahat, dan dari antara semua begu yang jahat dalam bangsa Batak, begu ganjanglah yang paling buruk. Begu ini ada karena perbuatan manusia yang memeliharanya untuk melakukan kejahatan. Begu ganjang sangat dekat hubungannya dengan hasipelebeguon, yaitu orang Batak yang menyembah dan mempermuliakan roh-begu[14].
Begu ganjang berasal dari mayat bayi ataupun anak-anak yang berusia 2 tahun ke bawah yang disebut sebagai “orok”, dimana orok tersebut dimasukkan ke dalam peti. Kemudian disembah, diberikan persembahan-persembahan, dan bahkan dinyanyikan. Hal ini akan terus dilakukan sampai roh orok tersebut tunduk kepada pemeliharanya. Roh bayi tersebut lah yang menjadi begu dan dapat diperintahkan oleh pemeliharanya. Begu ganjang ini pada dasarnya untuk membunuh musuh atau seseorang demi kepentingan pribadi, karena sejak awal begu ini diajarkan untuk membunuh yang pada umumnya dengan cara mencekik.
Begu ini disebut begu ganjang karena pada saat diperintahkan untuk membunuh seseorang, begu ini akan hadir tepat didepan orang yang akan dibunuh tersebut untuk menarik perhatian yang akan dibunuh untuk memperhatikan begu ini dan apabila dilihat ke atas maka wujud begu ini akan semakin tinggi sehingga leher yang akan dibunuh akan terbuka dan mudah untuk dicekik atau dibunuh. Inilah alasan mengapa begu ini disebut dengan istilah begu ganjang. Namun, begu ganjang disebut juga sebagai pangulu baling, yang dapat dikendalikan untuk hal-hal negatif[15].
Berdasarkan wawancara terhadap Ibu boru Gultom, yang pada masa mudanya beliau pernah menyaksikan ditangkapnya begu ganjang oleh orang kampung Ibu tersebut. Dimana kejadiannya berawal dari seorang pemuda yang tidak dikenal masuk ke rumah tetangga Ibu boru Gultom, dan tiba-tiba pemuda tersebut berlari keluar rumah, dimana kepala keluarga tetangga Ibu tersebut mengejar si pemuda. Kemudian pemuda yang tidak dikenal ini masuk ke dalam rumah yang lain dan tiba-tiba berubah wujud menjadi boneka. Bapak yang mengejar tadi menangkap boneka tersebut dengan genggaman yang kuat, dan dihadapan banyak orang boneka tersebut menangis dan menjerit kesakitan. Lalu bapak tersebut menanyakan asal usul begu yang ada di dalam boneka itu, dan boneka itu menjawab bahwa ketika dia meninggal bayi, mayatnya diambil oleh seseorang dan sejak kecil dipelihara dan diberi makanan. Dia mengatakan bahwa dia diajari untuk membunuh dengan cara mencekik, dan dia datang ke rumah itu karena disuruh oleh majikannya.   

h.     Pangulubalang
Pangulubalang adalah roh yang dipelihara untuk menjaga orang Batak dari marabahaya yang datang. Begu ini disembah oleh orang batak, sehingga begu ini masuk ke jenis begu yang di sembah atau dalam budaya Batak disebut dengan istilah sombaon[16]. Pangulubalang ini dipelihara dan diberi makanan, seperti nasi, telor ayam dan bahkan daging. Hal ini dilakukan agar begu ini tunduk dan mau melakukan perintah pemeliharanya untuk menjaga dan melindungi dirinya dari serangan-serangan musuh. Pangulubalang ini biasanya dibuat di suatu kampung, dan apabila bahaya dari musuh datang maka begu ini akan melawan musuh tersebut atau memberitahukannya kepada orang Batak yang tinggal di kampung itu, yang biasanya melalui suara binatang, seperti burung, anjing dan ayam. Terkadang begu ini juga diperintahkan untuk menyerang musuh pemeliharanya. Perlu diketahui bahwa pangulubalang tidak pernah disembah untuk mendapat kehidupan[17].
Namun, berdasarkan sumber yang lain mengenai pemahaman orang Batak mengenai begu menyatakan bahwa ada dua kelas roh yang diakui oleh bangsa Batak[18], yaitu:
a.     Begu
Begu adalah seorang manusia yang meninggal secara tidak sempurna atau tidak wajar, dan pada masa hidupnya berkelakuan buruk dan jahat terhadap manusia lain dan bahkan terhadap alam.
b.     Sombaon
Sombaon merupakan roh yang semasa hidupnya memiliki pengaruh yang besar dalam budaya orang Batak, dan secara adat sudah dikatakan saor matua atau sari matua. Misalnya sosok Sisingamangaraja yang merupakan sombaon bagi orang Batak, karena memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan orang Batak. Roh yang masuk ke dalam kelas sombaon adalah:
-        Pangulubalang
-        Boru Saniang Naga atau
-        Boraspati Ni Tano
Roh yang masuk ke dalam kelas sombaon ini akan mendapat keistimewaan di dunia roh, yaitu kedudukan khusus, sehingga dihormati dan disegani oleh roh-roh (begu) yang berada di sekitarnya.


[1] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 190
[2] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107
[3] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[4] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 191
[5] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107 dan 114
[6] Lih. Dr. Anicetus B. Sinaga, Allah Tinggi Batak Toba: Transendensi dan Imanensi, (Yogyakarta: PT Kasianus, 2014), Hlm. 124-125
[7] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[8] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 102-104
[9] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 101-102
[10] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108-109
[11] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 191
[12] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 100 
[13] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 99
[14] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 193
[15] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 193
[16] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[17] Lih. Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga Holing: Adat Batak - Patik Uhum, (Jakarta: Penerbit Dian Utama dan Kerabat, 2002), Hlm. 260-261
[18] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107

Friday, 30 June 2017

DASAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MASA KUNO





Persekutuan Kristen mengambil dasar agama Yahudi selaku dasar iman Kristen yaitu ketika perbuatan hebat yang dilaksanakan Allah di tengah-tengah umat Israel. Yahudi ketika itu diduduki oleh tentara Romawi, tentunya membawa nilai-nilai. Dalam konteksnya, Yahudi membawa dasar agamawi, Yunani membawa bahasa dan Romawi menetapkan struktur ketertiban umum dan hak sipil.

Pendidikan Yunani- romawi
1.   Plato ( kira-kira 428 – 348 s. M)
Dia berasal dari keluarga bangsawsan dan Plato seorang olahragawan  seumur hidupnya di kota Korintus. Plato mendirikan sekolah yang dinamakan Akademia. Pikiran Plato tentang pendidikan dimuat dalam bukunya yang berjudul, Republik, suatu karya yang melukiskan bentuk negara yang sesempurna mungkin, Latarbelakang tulisannya banyak diepngaruhi oleh gurunya Sokrates dalam tulisannya sering memakai dialog, sokraters sebagai pembicara utamanya. Dia menanyakan, memeriksa jawaban, menjernihkan jawaban dengan jalan mengajukan pertanyaan baru sampai peserta lainnya menentukan arti dari sesuatu yang dapat dipertahankan dan bukannya yang diterima  karena merupakan semacam pendapat umum belaka yang ditelan begitu saja.
Tiga tingkatan pikiran Socrates:
a.        Yakin yang tiada berdasar
b.       Bimbang dan ragu-ragu tentang pendapat semula, dan ingin hendak mengetahui yang sebenarnya.
c.        Yakin yang berdasarkan kepada penyelidikan dan cara berpikir yang betul.

Alasan mengapa mesti ada pendidikan bagi Plato melalui kiasan tentang suatu gua yang disimpulkan bahwa pendidikan diperlukan untuk membimbing orang-oranmg meninggalkan semua bayang-bayang yang tidak berakar ddalam kenyataan agar melihat serta menganut kebenaran. Manusia lebih condong menghargai keamanan pribadi meskipun dasarnya salah ketimbang membuka diri terhadap pendekatan baru, pengetahuan baru, pengertian baru dsb.
Kekuatan gagasan dalam pemikiran Plato dikaitkan dengan kata Yunani Logos ( Firman). Plato menekankan sebuah rasionalitas, orang didik secara berimbang dan tujuan aner kalos k’agathos (manusia yang indah dan berkebajikan).
Plato menekankan kesetaraan gender dalam menerima pendidikan namun subjeknya adalah kaum atasan, sementara lainnya adalah latihan (bukan pendidikan), sebab menurutnya pendidikan  mencakup perkembangan  manusia sebagai keutuhan.
Ruang lingkup pendidikan plato
1.               Emosi para anak didik dikembangkan  melalui musik dan cerita cerita yang memperlihatkan manusia atau dewa dewi dalam kegiatan yang bajik. Musik yang dimakasudkan oleh Plato harus memenuhi unsure musik, yaitu kata-kata, lagiu dan irama  berbudi pekerti.
2.               Tubuh setiap belajar harus dilatih
Olahraga memainkan peran penting dalam tubuh yang kuat dan berdisiplin. Diharapkan melalului pembelajaran itu murid dapat menguasai tubuh.
3.               Seorang berbudi pekerti mencakup semua ilmu yang menantang akal, misalnya ilmu ukur, ilmu pasti, ilmu bintang dan dialektika.
Pandangan terhadap tokoh Plato &  Implementasinya
1.               Konsep manusia yang menjadi objek dari pendidikan hanya terbatas pada manusia tertentu saja, yakni anak-anak dan muda-mudi dari kelompok bangsawan. Implementasi dalam tulisan Kompas edisi cetak 7 mei 2010 berjudul Pendidikan kian menguras air mata”, dalam tulisan ini ditekankan pendidikan yang seharusnya untuk semua warga negara justru pendidikan yang berkualitas dinikmati orang yang berada secara financial.
2.               Mengingatkan pentingnya keseimbangan antara perkembangan emosi, tubuh dan rasio.
3.               Meletakan dasar awal penggunaan media/ musik sebagai sarana belajar. Tapi bukan musik dengan kata-kata dan irama semrawut.
4.               Mengembangkan metode pembelajaran dialektika, dimana mengajak pelajar berpikir menemukan sendiri kebenaran.

2.       Aristoteles ( 384-322 seb. M)
Aristoteles lahir di desa Stagira, negri Tharakia, yaitu bagian utama Yunani modern sekarang. Yang mempengaruhinya adalah ayahnya yang seorang dokter yang caranya meninjau dunia sekitarnya. Ia memasuki Akademi Plato 367 seb.M ia belajar disana dan bekerja selama 20 tahun .setelah Plato gurunya meninggal Aristoteles menjadi guru dari putra Filipus, raja Makedonia.selama tiga tahun, ia menanamkan kehausan akan pengetahuan dan cara meneliti apa saja yang ditemuinya dengan seksama. Ia mendirikan sekolah yaitu peripatetic  yang artinya berjalan jalan. Ia mengajarkan logika, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bintang, ilmu jiwa dan etika.

Pandangan Aristoteles tentang pendidikan dalam isi dua karya utamanya, yaitu Etika Nikomakia dan Politik.
1.     Pendidikan mencakup kegiatan insani yang mempunyai maksud utama, yaitu menolong orang mencapai kebahagiaan. Poros utama pada diri pribadi saja dalam arti kebutuhan dan keinginannya, sedang kepentingan masyarakat tidak begitu dihiraukan.
2.     Arti kebahagiaan baginya dapat diserasikan dengan kebajikan bukan disimpan dalam bank melainkan suatu mutu yang perlu diamalkan terus menerus sepanjang hidup. Kebahagian adalah tujuan hidup karena itu tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan dapat dicapai
1.     Sebagai dasar pendidikannya, menitik beratkan pentingnya panca indera manusia. Guru mengembangkan  tugas belajar yang sesuai dengan minat bawaan itu.
2.     Tugas guru juga menolong murid-muridnya meningkatkan diri menjadi sama dengan orang-orang yang berbudi tinggi
3.     Melibatkan para murid dalam mengambil keputusan etis yang sesuai dengan patokan kebahagiaan, dengan mempertahankan siasat memilih jalan tengah kencana namun ada penekanan bahwa ada perilaku yang salah seperti membunuh berzinah dll.. intinya prilaku itu harus menampilkan suatu pribadi yang berbudi tinggi yang bijaksana dan yang mampu melihat hubungan-hubungan yang sejati.

Pandangan terhadap tokoh Aristoteles  & Implementasinya
1.      Pemahaman tentang jalan tengah sering disalahpahami sebagai bentuk kompromi, atau mencari aman saja.
2.      Prinsip mengejar kebahagian telah disalahpahami sebagai mengejar kebahagiaan diri di dalam paham hedonism. Dalam implementasinya yang muncul saat ini banyak yang mengejar pendidikan hanya untuk mendapatkan naik golongan, kenaikan gaji atau pangkat yang menjalani pendidikan hanya untuk mengejar sukses dan rasa hormat. Padahal Plato sendiri menekankan pendidikan yang berkarakter dalam tujuan pendidikan yang dia bangun.
3.      Menekankan pentingnya nilai etis dan prilaku etis. Jadi tidak hanya ilmu atau teori saja yang hebat.

3. Quintilianes ( 35 – 95 M)
Quintilianes dikenal dengan dunia dan pemikiran praktis yang lazimnya dikaitkan dengan orang Romawi. Keunggulan dalam administrasi gereja, membangun gedung besar, membangun pelayanan agar suatu negara berfungsi, seprti sistem pos, perlautan darat dan laut. Quntilianes berasal dari Spayol memperbaiki pendidikan dalam bidang praktis , guru Romawi yang pertama yang diangkat sebagai guru Rhetorika (seni bicara di depan umum) yang dibayar dari kas negara. Kelemahan Quintilianes lebih menekankan kefasihan berpidato, menjadi suatu nilai mutlak
Point pengajaran Quintilianes
1.   Karyanya Institutia Oratoria ( Pengajar tentang asa ilmu Pidato), baginya keterampilan ini yang penting dikembangkan dalam sejumlah fungsi kenegaraan dalam kerajaan Romawi. Barangsiapa yang pandai berpidato, dapat menolong orang-orang lain memperoleh keadilan melalui lembaga-lembaga negara. Efek ini sekaligus dapat mempengaruhi rakyat
2.   Memperlakukan setiap anak didik sebagai pribadi yang perlu dihormati, karena pada zaman itu para pendidik tidak merencanakan tugas belajar yang sesuai dengan kemampuan khusus setiap golongan umur.
3.   Kecenderungannya mengandalkan metodel menghafal
4.   Memamfaatkan pengaruh tekanan teman sebaya. Bakat seorang dikembangkan dalam kelompok belajar itu, karena disana ia belajar baik dari kegagalan maupun prestasi anak-anak lain.
5.   Quintilianes menolak hukuman kepada siswa, menghina diri sipelajar. Kekerasan menunjukan kegagalan guru. Guru hendaklah mempunyai sifat keibu-bapaan terhadap murid dan memandang diri sebagai wakil orangtua.
6.   Mengembangkan keinginan dalam setiap diri murid untuk bertindak dengan budi yang tinggi
7.   Sadar akan pentingnya senggang waktu bagi pelajar  (para pelajar boleh bersantai )

Pandangan terhadap tokoh Quintilianes  & Implementasinya
1.   Sangat menekankan satu aspek saja, yakni kemampuan berpidato, sehingga merelatifiskan aspek lain dari pendidikan.
2.   Tidak ada hubungan langsung antara perilaku anak-anak dengan kemampuannya menghafal
3.   Anak didik harus diperlakukan sebagai seorang pribadi yang harus dihormati. Memperkenalkan mendidik sesuai dengan perkembangan siswa.
4.   Penekanan waktu senggang, agar anak tidak stress dan cepat bosan.

Pendidikan Agama Yahudi
Hubungan erat antara paguyuban Yahudi dan Kristen dapat dilambangkan dengan penemuan para ahli purba kala di kota Jaresy, Plaestina kono, pada dasawarsa ke 3 abad keduapuluh. Dibawah gedung gereja Byzatium dari abad ke 6 M, telah ditemukan reruntuhan suatu rumah ibadat agama Yahudi yang jauh lebih tua lagi. Sebagaimana gedung gereja dibangun atas gedung ibadat Yahudi, demikian pula gereja, termasuk pendidikannya, dikembangkan atas warisan Yahudi
Perkembangan agama Yahudi dapat dibagi dalam dua zaman pokok, Zaman pertama itu mulai dari terbentungnya bangsa Israel dan berjalan terus tahun 586 seb.M, yaitu kejatuhan kerajaan Yehuda dan pembuangan kaum elitenya ke Babel. Zaman kedua mulai dengan pembuangan dan diteruskan sampai permulaan gerakan Kristen.

1.   Permulaan Bangsa Israel sampai pembuangan ke Babel
Berdasarkan sejarah, bangsa israel berasal dari salah satu suku semit yang terlibat perpindahan umum 4000 tahun yang lalu di daerah barat daya Asia. Perpidahan itu terjadi ribuan kali dalam sejarah perjalanan umat dari segi iman suku yang dipimpin oleh Abram merupakan pemanggilan Allah untuk meninggalkan tanah airnya beberapa keyakinan teologis ini yang merupakan dasar bagi beberapa keyakinan teologis yang menyoroti pendidikan agama Yahudi, baik isinya maupun pola pelaksanaannya.

a.    Dasar Teologi Pendidikan Agama Yahudi
Berdasarkan keyakinan bahwa Allah memanggil Abram dan ia menjawab melalui imannya, keturunannya dinamakan bangsa yang terpilih.pemilihan itu terjadi karena anugerah Tuhan dan bukan sebagai hasil perbuatan hebat Abram dan keluarganya. Pemilihan itu tidak terjadi agar bangsa Yahudi itu dilayani, malahan justru agar bangsa lain dilayani melalui bangsa yang terpilih itu. pengalaman hebat Abram itu amat pribadi sifatnya, tetapi maknanya melebihi hal-hal semata-mata pribadi. Pemahaman Yahudi, setiap angkatan baru perlu diperkenalkan kepada warisannya. Umat Yahudi dalam keluarga khususnya ayah, ditugaskan untuk menyampaikan kekayaan iman Yahudi kepada setiap angkatan baru.  ( Ul. 6:4-9)

Ruang lingkup pendidikan Yahudi adalah bagian kehidupan kegiatan sehari-hari yang lazim dilakukan. Syarat yang diharapkan para orangtua wajib menjadi pelajar seumur hidup. Selain keyakinan teologis sebagai pengajaran Yahudi:
1.     Berporos pada jati diri bangsa  sebagai umat pilihan
2.     Haluan pendidikannya akan kepastian akan adanya penyataan sebagai pengalaman yang diharapkan dasar pendidikan agama Yahudi adalah ajaran tentang manusia.
3.     Manusia diciptakan menurut gambar Allah untuk memelihara lingkungan hidup

b.   Tujuan Pendidikan Agama Yahudi
Melibatkan angkatan muda dan dewasa dalam sejumlah pengalaman belajar yang menolong mereka mengingat perbuatan ajaib yang dilaksanakan Allah pada masa lampau, serta membimbing serta mengharapkan terjadinya perbuatan sama dengan penyataan di tengah-tengah kehidupan mereka guna memenuhi syarat-syarat perjanjian, baik yang berkaitan dengan kebaktian keluarga dan seluruh persekutuan maupun mencakup perilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagimana Ia dijawantahkan dalam urusan sosial dan pemeliharaan ciptaan yang dinamakan baik oleh Tuhan.

c.    Pengajar-pengajar
Empat golongan pemimpin ( kaum imam yang melayani Allah dan jemaatNya, nabi  sebagai mengumumkan Firman teguran , hukuman dan perdamaian serta mendorong pemikiran orang dewasa, kaum bijaksana yang kita dapat dalam kitab Amsal, Ayub dan Pengkotbah, golongan keempat yaitu kaum penyair yang mengajar jalan mendobrak hati umat melalui irama dan perkataan simbolis) dan ditambah orangtua sebagi pengajar dirumah yang menganggap dirinya penengah yang memuarakan pengalaman nenek moyang mereka dengan Tuhan kepada setiap angkatan baru.

Pendidikan dirumah seperti:
-        Seluruh keluarga didik lagi selama melaksanakan semua persiapan yang berkaitan dengan pelaksanaan hari Sabat.
-        Terdapat pendidikan melalui keterlibatan mereka dalam pelbagai pesta tahunan, khususnya Hari Raya Paskah

d.   Kurikulum
Tema pokok:
-        pemilihan Abraham dengan keturunannya,
-        penciptaan langit dan bumi,
-        pembebasan dari perbudakan di Mesir,
-        pemberian Hukum Taurat,
-        Pendudukan tanah yang dijanjkan,
-        Permulaaan kerajaan
-        Kesaksian kaum nabi tentang kecenderungan umat Israel menyeleweng dari persyaratan yang termuat dalam perjanjian.

Pandangan terhadap Permulaan Bangsa Israel sampai pembuangan ke Babel & Implementasinya
1.     Pemahaman penutupan Yahudi terhadap bangsa sendiri membuat pemahaman sempit yang berporos pada jati diri bangsa  sebagai umat pilihan. Ruang lingkup semacam ini menutup kemungkinan pembelajaran yang baik dari bangsa lain, sehingga peranan pengajar bersifat kaku dalam mengajarkan tema-tema pokok pengajarannya. dalam implementasinya tentang eklusivisme dalam pendidikan dari kutipan dalam sosbud.kompasianna.com, 7 mei 2012 menekankan pelaksanaan eklusivisme sebagai akar dari radikalisme agama. Eksklusifme cenderung melakukan  pemaksaan  dan kekerasan atas nama agama kepada kelompok lain.
2.     Hal menarik dalam melibatkan angkatan muda dan dewasa dalam sejumlah pengalaman belajar yang menolong mereka mengingat perbuatan ajaib yang dilaksanakan Allah pada masa lampau, serta membimbing serta mengharapkan terjadinya perbuatan sama dengan penyataan di tengah-tengah kehidupan mereka guna memenuhi syarat-syarat perjanjian. Mamfaat ini membuat para pelajar bisa memahami langsung ilmu dalam kehidupan yang nyata.
3.     Keterlibatan orangtua menjadi pendidik, sangat membantu proses pencerdasan peserta didik sekaligus membangun nilai kebersamaan dan anak bisa merasakan cinta kasih Tuhan melalui orangtua dalam pendidikan si anak.

2.       Pembuangan ke Babel dan Permulaan Zaman Masehi
Sesudah sebagian besar dari kaum atasan Yahudi dibuang ke Babel, teologi mereka yang dulu dianggap cukup teguh, tercatat perlu dipikirkan ulang. Akibatnya peninjauan itu mempengaruhi teori dan praktek pendidikan Agama Yahudi
a.        Dasar Teologi Baru untuk Pendidikan Agama Yahudi
-        Berangsur-angsur para pemimpin rohani Yahudi di Babel mulai mengembangkan teologi baru dari abu bencana yang sedang menimpa mereka bersama. Titik berat pendidikan Agama Yahudi  melihat umat Tuhan yang mendapat penghukuman dari Allah yang melanggar Taurat sehingga ditanah airnya menitik beratkan pentingnya menaati semua peraturan yang berhubungan dengan kebaktian  di Bait Allah dan gaya hidup lahiriah .
-        Isi pendidikan agama Yahudi diajarkan dimana-mana karena tidak ada orang yang suka dalam penderitaan.
Kekakuan terhadap penyataan namun suatu azas ditawarkan dalam misnah sebagai penafsiran para rabbi, yaitu agar orag-orang mempelajari isi Taurat dengan jalan mengamalkan dan menaati isnya. Firman yang dihafal merupakan penyataan yang kaya raya, yang dapat dipakai memecahkan masalah-masalah yang muncul setiap hari penghafalan dimulai sejak anak-anak agak menguasai bahasa ia dibimbing menghafal satuan ayat atau sebagian ayat setiap hari, semakin bertumbuh maka harus menghafal jumlah ayat-ayat itu.
b.       Lembaga-lembaga Pendidikan Agama Yahudi
Lembaga-lembaga Pendidikan Agama Yahudi diantarannya  seperti:
-        Lembaga rumah ibadat ( sinagoge) ( Luk 2:46, Kis 13:15)
Dahulunya merupakann pertemuan beberapa keluarga  bersama ahli Taurat berkumpul dan berdoa membicarakan keadaan mereka dalam terang taurat Tuhan. untuk mengobarkan api iman situasional mereka dalam pembuangan ( Maz 137:4). Sinagoge merupakan tempat pengajaran (tahun seb 20 seb.M – 50 M) 
-        Rumah Ibadat untuk mengajar orang dewasa untuk mendidik angkatan muda secara tertib. Ini diawali pada tahun 75 seb.M oleh Rabi Simson ben Syatakh yang mendirikan sebuah sekolah dasar di kota Yerusalem.
-        Akhirnya berkembang dalam keputusan Imam Agung Yosua ben Gamala untuk mendirikan sekolah-sekolah dasar. Setiap guru mengajar  duapuluh lima anak laki-laki sekaligus. Jika lebih maka akan diangkat guru pembantu. Pada prinsipnya, guru tidak menerima gaji, karena bahan yang diajarkan ialah Taurat,  pemberian dari Tuhan, namun pada prakteknya ia biasanya menerima bermacam-macam jenis pertolongan bendawi. anak laki-laki wajib masuk sekolah diusia enam tahun. Mereka mempelajari Ibrani, Taurat, nubuatan dan tulisan lain misalnya mazmur.
-        SMP mereka boleh diterima Beth Talmud yang mempelajari misyna  suatu penafsiran tentang isi Taurat, Talmud dan Haggadah ( Lukas 2:46) dan  ilmu hitung, ilmu bintang , ilmu bumi dan ilmu hayat sebagai pelengkap.

c.        Gaya Mengajar di Sekolah Yahudi
-        Menitik beratkan menghafal 22 huruf abjad Ibrani dan menulis dan membaca
-        Para guru mensiasati untuk mempercepat proses belajar seperti menempatkan seorang murid tidak begitu tertarik tugas itu dekat seorang anak yang rajin dan pintar.
-        Guru memafaatkan daya tarik irama dengan menyuruh anak-anak didik menyanyikan bahan yang dipelajari.
-        Memakai sistem perdebatan
-        Acaman hukuman untuk menarik perhatian meskipun hukuman fisik yang berat agaknya tidak jamak.



d.       Para Pelajar
-        Tidak ada tempat bagi anak perempuan kecuali keterampilan yang diajarkan Ibunya untuk dapat melaksanakan tugas khusus wanita
-        Anak laki-laki keluarga miskin dapat memperoleh kesempatan belajar bersama keluarga elit di pembuanagn
-        Anak didik terlatih  untuk berpikir secara agamawi dalam menghadapi urusan sehari-hari, dan pada dasarnya  kehidupan masalah  hidup bersifat teologis.
-        Ruang lingkup terhadap kurikulum terbatas, tetapi apa yang dapat dipelajari dengan serius.
-        Penggabungan pendidikan dan ibadah sebagai siasat untuk memperlengkapi persekutuan  iman dengan hidup didunia ini secara bertanggung jawab, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap keluarga

Pandangan PAK terhadap Pembuangan ke Babel dan Permulaan Zaman Masehi
1.   Menomor duakan wanita dalam mendapatkan ilmu pendidikan merupakan pendeskriditkan perempuan dalam dunia pendidikan.
2.   Menarik dengan cara guru yang mengajar anak didik dengan cara bernyanyi bahan ajar guru ditambah lagi Penggabungan pendidikan dan ibadah sebagai siasat untuk memperlengkapi persekutuan  iman dengan hidup didunia ini secara bertanggung jawab, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap keluarga
3.   Ada beban bagi siswa untuk menghafal setiap hari. Dalam implementasinya ini yang sering terjadi dalam kehidupan pelajar saat ini, beban mata pelajaran yang sangat padat hingga siswa harus pulang lama dari sekolah sesampainya dirumah sudah letih dan harus dituntut mengerjakan tugas pelajaran dari sekolah. Dalam tulisan dari www.academia.edu yang mengembangakan bermain dan belajar pada anak dengan menekankan pencapaian kemandirian yang sekaligus beradaptasi terhadap perubahan berbagai lingkungan . belajar dapat dilakukan dengan melihat, mendengar, membaca, menyentuh, membaui, bergerak, berbicara, bertindak, berinteraksi, refleksi, dan bahkan bermain. Jadi tidak semata menghafal sebagai metode yang harus dipakai.
4.   Upah guru tidak diperhitungkan ini merupakan hal yang salah satu metode yang tidak mengembangkan kreativitas guru dalam mengajar karena dihambat dalam masalah finansial atau keuangannya.