Thursday, 24 August 2017

Peran Profesi Ibu Dalam Keluarga

 PERAN PROFESI IBU DALAM KELUARGA

Keluarga adalah tempat pertumbuhan dan perkembangan setiap orang. Didalam keluargalah tercipta pribadi-pribadi yang bermoral dan memiliki iman yang baik melalui pendidikan didalam keluarga. Kualitas didikan yang baik akan tercermin melalui tingkah laku seseorang. Kondisi keluarga yang nyaman serta kehangatan yang terjalin antara setiap anggota keluarga merupakan modal utama untuk membangun keluarga yang baik. Keluarga yang utuh biasanya terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak.
Dalam keluarga seorang Ayah berperan sebagai pemimpin rumah tangga yang memberikan perlindungan kepada anggota keluarga, menafkahi dan bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga. Sedangkan seorang Ibu berperan sebagai pedamping ayah, yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga seperti mengurus rumah dan mengurus anak-anak.
Sudah semestinya seorang Ayah dan Ibu melaksanakan tugasnya sesuai kedudukannya masing-masing. Namun, di zaman sekarang ini peranan Ayah dan Ibu mengalami pergeseran. Kondisi seperti inilah yang menuntut Ayah dan Ibu untuk mampu memainkan peranan ganda atau muti fungsi. Pergerseran peranan Ayah dan Ibu dapat terjadi apabila adanya perpisahan antara Ayah dan Ibu baik melalui perceraian maupun kematian. Hal-hal seperti ini mendesak Ayah dan Ibu harus memiliki peranan yang fleksibel agar sang anak tidak merasakan kehilangan peranan dari Ayah dan Ibu.
Jika dalam keluarga kehilangan sosok Ayah, maka Ibu harus siap untuk berperan ganda, tidak hanya mengurus urusan rumah tangga, Ibu juga harus mencari nafkah dan memebuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Jika dilihat secara terbuka, peranan Ibu sangatlah penting dan sulit dibandingkan seorang Ayah. Seorang Ibu dituntut mengajarkan anaknya tentang dasar-dasar pendidikan yang baik guna memberikan pembekalan sejak dini kepada sang anak, sehingga ketika dewasa ia akan mampu menghadapi kesukaran yang ada.
Betapa sulitnya menjadi seorang Ibu, dibutuhkan banyak keahlian ditambah lagi dengan peranan ganda yang harus dilakukan untuk menggantikan sosok suami dan Ayah dari anak-anak. Dalam keluarga Ibu memainkan banyak peran dan menjadi teladan atau contoh kepada anak-anaknya, kekuatan dan integritas yang dimiliki seorang Ibu dapat mempengaruhi psikologi sang anak yang akan juga berpengaruh kepada masa depan anak.

IBU SEBAGAI MENTERI PENDIDIKAN
Ibu bertanggungjawab atas segala pendidikan yang akan diberikan kepada anak baik pendidikan secara jasmani maupun rohani. Allah memberikan tanggung jawab yang besar bagi setiap perempuan untul menjadi seorang Ibu. Pendidikan yang utama ialah tentang pertumbuhan dan perkembangan iman seorang anak. Mengenal dan memperlajari firman Tuhan merupakan dasar utama (Ulangan 4:20, Efesus 6:4).Mengetahui kebenaran Alkitab yang akan mempengaruhi cara pandangnya mengenai dunia (Mazmur 78:5-6). Pendidikan rohani ini banyak sekali ditinggalkan oleh single parent yang memfokuskan perhatiannya terhadap karir, sehingga kebutuhan rohani sang anak sangatlah minim, maka dari itu pendidikan rohani sang anak tidaklah boleh dianggap sepele.
Ibu juga mengajarkan tentang pentingnya kedisiplinan, mengenalkan dan mengajarkan tentang takutnya akan Tuhan dan beribadah dengan saleh, menentukan batasan-batasan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan seorang anak/ baik buruknya dalam suatu tindakan, mengajarkan sang anak dengan ketegasan namun tetap menerapkan kasih didalam pengajarannya, memberikan hukuman (punishment) jika melakukan kesalahan namun dalam porsi yang baik dan benar serta mendidik (Ibrani 12:5-11, Amsal 13:24; 19:18; 22:15; 23:13-14; 29:15-17).
Seorang Ibu harus mampu mengenali kemampuan dan kelemahan anaknya, mengetahui apa yang menjadi keterampilan dan minat sang anak. Serta membimbing anaknya didalam bakatnya agar bakat yang dimiliki anaknya dapat tersalur, berkembang, dan menjadi individu yang berkualitas baik di mata masyarakat ataubahkan di Hadapan Nya di Jalan Nya (Amsal 22:6). Pendidikan harus diberikan dengan seimbang antara duniawi dan sorgawi agar tercipta pribadi yang memiliki integritas dan spiritualitas yang matang.

IBU SEBAGAI SEORANG PSIKOLOG
Seorang Ibu yang mengasuh anaknya sejak kecil memiliki ikatan batin yang erat antara satu sama lain. Interaksi antara anak, berdiskusi dengan anak-anak mengenai berbagai hal mampu membuat Ibu lebih mengenal pribadi dan pola pikir sang anak, tentu saja Ibu harus mampu membagi waktu dan menyediakan waktu khusus untuk menghabiskan kebersamaan (Ulangan 6:6-7).
Menghadapi psikologi anak tentu bukan hal yang mudah, ditambah lagi dengan bertambahnya usia anak dimulai dari masa kanak-kanak menuju remaja dan mencapai kedewasaan tentu memiliki pendekatan psikologi yang berbeda. Ibu menempatkan dirinya sebagai tempat dimana anak merasa adanya dukungan secara lisan dan konstan, adanya kemesraan dan kasih yang tanpa syarat (Titus 2:4, 2 Timotius 1:7, Efesus 4:29-32; 5:1-2, Galatia 5:22, 1 Petrus 3:8-9).

IBU SEBAGAI DOKTER SEKALIGUS PERAWAT
Ibu menjaga kesehatan lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan sang anak. Menerapkan gaya hidup sehat untuk menjauhkan anak-anak dari segala sesuatu yang mengancam kesehatan. Menjaga dan merawat ketika sang anak dalam keadaan sakit, senantiasa berusaha ada disamping sang anak ketika sedang sakit, menyuapi makan, memandikan dan berbagai hal lainnya dan tidak bosannya memberikan perhatian. Tak jarang seorang Ibu akan mengesampingkan kesehatannya demi sang anak dan mengutamakan keperluan sang anak.

IBU SEBAGAI MENTERI KEUANGAN
Ketika Ibu menggantikan posisi Ayah sebagai pemenuh kebutuhan dalam rumah tangga, sudah pasti akan mengorbankan banyak hal, terutama waktu. Ibu yang memilih menjadi wanita karir demi memenuhi kebutuhan rumah tangga merupakan tugas yang sulit. Membagi perhatian antara mengasuh anak dengan kebutuhan ekonomi keluarga.
Ibu mengatur segala pemasukan serta berbagai pengeluaran, baik kebutuhan pangan, biaya pendidikan, dan berbagai tagihan seperti listrik dan air. Segala perekonomian diatur sendiri oleh Ibu. Tentu saja ini sangat menyita pikiran. Tidak jarang Ibu yang mengalami tekanan dikantor maupun tempat kerjanya, sering melampiaskan kekesalannya jika sang anak melakukan kesalahn dan sudah seharuanya kita sebagai anak memaklumi situasi seperti ini.
Allah memberikan segala kecukupan bagi kita, kita tidak perlu khawatir sebab Allah selalu memelihara dan menjaga kita (1 Petrus 5:7, Mazmur 128:5. Filipi 4:13).


IBU SEBAGAI MOTIVATOR
Ibu memberikan dukungan dalam setiap aktivitas yang dilakukan sang anak, dorongan seperti ini memberikan stimulasi kepada anak untuk melakukan sesuatu dan dapat meningkatkan kognitifitas sang anak. Dukungan dari orang terdekat mampu memberikan rasa nyaman dan meningkatkan kepercayaan diri sang anak.
Ibu juga berusaha menjadi teladan bagi anak-anaknyaagar melakukan hal yang sama, mengajarkan anak dengan langsung memperaktekannya melalui tindakan jauh lebih baik dibandingkan melakukan pengajaran dengan satu arah (Ulangan 4:9,15,23; Amsal 10:9; 11:3, Mazmur 37:18,37).
Allah memberikan kesempatan dan tanggung jawab menjadi seorang istri dan Ibu dalam keluarga seperti tertulis dalam Titus 2:4-5 Dan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang.Allah mengingankan perempuan untuk mencintai anaknya.
Allah mengaruniakan keunikan tersendiri didalam pribadi setiap anak. Anak merupakan hadiah dari Allah kepada setiap keluarga (Mazmur 127:3-5). Peranan Ibu sangatlah krusial dalam keluarga, mengandung, melahirkan, mengurus anak hingga dewasa merupakan pekerjaan yang sulit. Pengajaran kepada anak-anak juga berubah seiring dengan waktu pertumbuhan anak dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Hidup dalam keluarga tunggal bukanlah pilihan, selain orangtua anak-anak juga memiliki peranan dalam keluarga. Berusaha untuk mengerti mengenai keadaan yang terjadi didalam keluarga merupakan hal yang mendasar. Membantu Ibu dalam urusan rumah tangga dapat membantu Ibu lebih fokus terhadap pekerjaanya. Dengan hal-hal kecil seperti ini dapat meringankan beban tugas dan tanggung jawab ganda yang dipikul oleh Ibu.
Tidak ada seorang pun yang ingin menjadi orangtua tunggal, namun jika Allah menghendaki hal tersebut maka harus dijalani dengan rasa syukur sebab Allah selalu menyertai dan memenuhi segala kecukupan (Filipi 4:19). Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala keluarga yang agung. Berilah kesempatan kepada Allah untuk memimpim dan mengurus rumah tangga dan biarkan Roh Kudus menyertai setiap anggota keluarga.

Thursday, 3 August 2017

BEGU DALAM BATAK



Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki pikiran, dimana setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Kejadian yang pernah dialami manusia dan kesadaran yang ada di dalam diri manusia akan mempengaruhi pola pikir manusia. Pola pikir manusia yang berbeda tersebut tentu mempengaruhi setiap tindakan-tindakan yang dilakukan dalam berhubungan sosial, sehingga terbentuk suatu kebiasaan yang secara perlahan menjadi aturan-aturan yang mengatur hidup suatu kelompok yang terdiri dari individu-individu. Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian disepakati sehingga menjadi budaya yang mengikat kelompok tersebut dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Kebudayaan ini bersifat dinamis, karena pola pikir manusia yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Demikianlah yang terjadi dalam kehidupan bangsa Batak, yang mengalami perubahan dari zaman primitif hingga kepada zaman modern. Dalam proses perubahan ini tentu ada yang ditinggalkan dan ada yang dipertahankan, dan perubahan ini juga tidak dapat dihindarkan dari pengaruh eksternal, seperti kedatangan bangsa lain yang membawa budaya yang berbeda dengan budaya Batak.
Bangsa Batak Kuno yang masih berada dalam zaman primitif pada dasarnya berpola pikir inklusif atau sintesis, dimana mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan memiliki hubungan satu sama lain. Hal ini dipengaruhi dari kondisi sosial dan kesadaran manusia primitif yang memandang segala sesuatunya bukan dari realitas, namun adanya kekuatan supranatural yang bekerja dan memiliki kuasa untuk mengatur alam, atau disebut dengan istilah animistis. Kekuatan supranatural tersebut diyakini berasal dari roh-roh nenek moyang , roh-roh alam, roh yang disembah, dan roh yang diberi sesajen yang tinggal atau berada di sekitar bangsa Batak[1], atau dengan kata lain hidup bersama-sama dengan bangsa Batak. Ini merupakan kepercayaan orang Batak yang beranggapan bahwa alam roh merupakan bagian dari populasi kosmos.[2]
Roh-roh memiliki hubungan erat dengan pemahaman bangsa Batak kuno terhadap kematian. Bangsa Batak meyakini setelah kematian, roh tersebut akan menjadi “begu” dan apa yang dilakukan selama kehidupannya di bumi akan dibawa sampai pada kehidupan setelah kematian.[3] Perlu diketahui, bahwa begu pada umumnya dipandang sebagai roh yang sebelumnya mengalami kematian secara tidak sempurna.[4] Dan roh yang mengalami kematian secara sempurna disebut dengan istilah sombaon yang disembah karena dapat membantu  dan memberikan mereka berkat.[5] Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Batak mempercayai bahwa ada dua alam yang berlangsung bersamaan, yaitu alam manusia dan alam roh.
 I.        Isi
Bangsa Batak memahami tiga unsur yang membuat manusia itu menjadi ada, yaitu Tondi, Tubuh dan Sahala. Tondi merupakan daya hidup yang membuat seseorang itu dapat melakukan aktifitasnya sebagai manusia, yaitu roh; hidup; nafas. Tubuh menjadi wadah tondi, sehingga tondi menjadi milik pribadi tubuh karena hanya ada satu tubuh untuk satu tondi. Sahala ini lah yang merupakan aktualisasi atau realisasi daripada daya tersebut, sehingga orang lain dapat merespon daya tersebut[6].
Namun setelah kematian, tubuh akan terpisah dengan tondi (roh). Orang Batak meyakini roh yang telah terpisah ini akan tetap ada dan hidup di alam roh. Roh-roh inilah yang disebut bangsa Batak sebagai begu ataupun sumangot yang tinggal di bumi bersama manusia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pdt. Hisar Sitorus yang melayani di Gereja HKI mengatakan bahwa orang Batak kuno memandangan bahwa begu itu ada dan hidup bersama-sama dengan orang Batak. Orang Batak membedakan begu ke beberapa jenis, yaitu:
a.     Sumangot/Sahala Ni Da Ompu
b.     Begu Na Maot-aot
c.      Begu Jau
d.     Begu Attuk
e.     Begu Nur-nur
f.       Begu Na So Hasea
g.      Begu Ganjang
h.     Pangulubalang
Namun perlu diketahui, bahwa orang Batak percaya bahwa ada begu yang bersifat baik, dimana begu ini mau membantu dan memberkati manusia dalam perjalan hidupnya, sementara itu ada pula begu yang bersifat jahat, karena begu ini suka mengganggu dan bahkan membunuh manusia.  Hal ini dipengaruhi oleh proses kematian yang mendorong si begu untuk memberkati, menolong, dan bahkan membunuh. Karena orang Batak mempercayai bahwa di dunia begu terjadi interaksi yang sama dengan yang terjadi di dalam kehidupan manusia[7], dan perlu diketahui bahwa interaksi ini dipengaruhi juga dari kehidupan orang Batak sebelum kematian. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang Batak mempercayai bahwa manusia akan membawa semua kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya di kehidupan manusia sampai pada kehidupan setelah kematian.
            Berikut penjelasan akan jenis-jenis begu berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Pdt. Hisar Sitorus, yaitu:
a.     Sumangot/Sahala Ni Da Ompu
Begu ini disebut dengan kata Sumangot yang menunjukkan bahwa kelas atau derajat roh ini merupakan kelas tertinggi. Di dunia roh, sumangot betul-betul dihargai dan disegani oleh roh-roh lain. Hal ini dapat terjadi ketika orang Batak yang memiliki keturunan yang seluruhnya telah menikah, sehingga memiliki cucu yang akan membawa namanya (panggoaran) dan bahkan bercicit (marnini marnono), dimana dalam budaya Batak dikatakan dengan istilah Saor Matua[8]. Dan ketika orang Batak yang memiliki keturunan dan sudah bercucu walau semua anaknya belum menikah meninggal, yang dalam budaya Batak dikatakan dengan istilah Sari Matua[9]. Rohnya akan disebut dengan istilah Sumangot Ni Da Ompu, karena semasa hidupnya di dunia telah mendapat Hamoraon (kekayaan), Hagabaeon (kejayaan), dan Hasangapon (kehormatan) yang menjadi impian setiap orang Batak.
Orang Batak Kuno memiliki kebiasaan untuk membuat persembahan (pelean) bagi mereka yang mati saor matua dan sari matua oleh keluarganya, dimana hal ini membuat rohnya semakin disanjung di dunia roh. Ini dapat dilihat dari makanan-makanan yang diletakkan di kuburan, dan itu dapat berupa buah-buahan atau makanan khas batak, seperti itak gurgur. Hal ini dilakukan orang Batak untuk meminta berkat dan pertolongan dari roh atau sumangot tersebut[10]. Misalnya untuk mendapat kemudahan dalam pencarian kerja ataupun kesuksesan pertanian mereka. Pemberian persembahan tidak harus di kuburan, tetapi di rumah juga bisa dilakukan. Orang Batak meyakini bahwa makanan yang mereka persembahkan itu akan dimakan oleh sumangot yang ditandai dengan kondisi makanan yang berubah menjadi dingin. Dan di duniah roh pun sumangot tersebut akan memamerkan apa yang dilakukan oleh keturunannya dan terkadang persembahan itu dibagi-bagikan dengan roh-roh lain sehingga sumangot itu disegani di dunia roh. Sumangot ini sering juga disebut dengan istilah sombaon (yang di sembah), karena disembah oleh keturunannya sehingga memiliki kedudukan yang khusus di dalam dunia roh[11].
Pemahaman ini lah yang dipegang orang Batak pada zama dahulu, sehingga orang Batak akan sangat bersedih ketika mereka tidak mempunyai keturunan, karena mereka akan mengalam penderitaan di dunia manusia dan di dunia roh. Di dunia roh, mereka tidak mendapat persembahan karena mereka tidak memiliki keturunan, dan hal ini akan membuat roh mereka akan disingkirkan dan diasingkan.

b.     Begu Na Maot-aot
Begu ini merupakan orang Batak yang meninggal, namun dia tidak memiliki keturunan walau sudah menikah, sehingga tidak ada yang memberi persembahan baginya. Dalam bangsa Batak, kematian seperti ini disebut dengan istilah Mate Makkar[12]. Hal ini membuatnya disingkirkan atau diasingkan di dunia roh. Misalnya seorang perempuan boru Sitorus menikah dengan marga Sinaga. Dalam budaya Batak, boru Sitorus akan dibawa ke dalam keluarga besar Sinaga atau dengan kata lain boru Sitorus merupakan tamu dan dia menjadi bagian dari keluarga Sinaga karena yang menikahinya bermarga Sinaga. Ketika marga Sinaga ini meninggal maka boru Sitorus akan dikembalikan ke keluarga atau kampungnya. Hal ini tetap berlaku di dalam dunia roh, dimana ketika boru Sitorus meninggal maka roh nya harus kembali ke kampungnya, karena dirinya merupakan tamu di kampung itu. Namun, walaupun roh boru Sitorus telah kembali ke kampungnya atau asalnya bukan berarti roh nya diterima begitu saja oleh roh-roh lain. Roh boru Sitorus ini akan tetap disingkirkan, karena dia telah meninggal secara tidak wajar dan tidak ada yang memberikannya persembahan.      

c.      Begu Jau
Begu jau merupakan salah satu begu yang disingkirkan dari dunia roh atau dengan kata lain, tidak memiliki teman di dunia roh. Sehingga begu ini suka mencari manusia lain untuk diganggu dan bahkan diambil rohnya dengan tujuan untuk mecari teman, sehingga begu ini tidak sendiri lagi dan menderita di dunia roh karena tidak memiliki teman.
Pengalaman yang dialami Bapak Pdt. Hisar Sitorus mengenai begu jau ini terjadi pada tahun 1970 di Sidingkalang. Dimana pada saat itu ada seorang Ibu boru Gultom sedang melahirkan. Orang Batak mengenal budaya melek-melekan yang dilaksanakan seminggu setelah salah satu warga kampung melahirkan. Dalam seminggu itu orang-orang kampung akan berkumpul di rumah yang melahirkan tersebut. Orang Batak meyakini bahwa seminggu sebelum dan setelah melahirkan, roh seorang ibu akan sangat lemah dan sangat mudah untuk diganggu. Hal ini terjadi ketika boru Gultom tersebut selalu mimpi buruk setelah dirinya melahirkan. Kemudian pada hari ke-empat setelah boru Gultom melahirkan, dirinya dirasuki oleh begu. Salah seorang yang berkumpul ditempat itu yang sedang melek-melekan dengan sigap memegang dan menekan telapak kaki si boru Gultom, dan kemudian menanyakan siapa yang merasuki boru Gultom tersebut. Lalu begu yang merasuki itu menjawab, bahwa dia adalah si boru Siahaan yang meninggal ketika dia hamil dulu. Orang-orang yang berkumpul di rumah itu mengenal boru Siahaan ini, karena dia adalah warga kampung mereka yang menikah dengan marga Pangaribuan, namun meninggal seminggu yang lalu ketika dirinya sedang hamil 5 bulan. Kemudian orang yang memegan kaki boru Gultom ini bertanya kepada begu boru Siahaan tersebut tentang mengapa dia merasuki dan mengganggu boru Gultom tersebut. Begu boru Siahaan mengatakan bahwa sebulan yang lalu dia sudah mencium sesuatu yang harum dari boru Gultom tersebut, dan setelah dia mengetahu bahwa boru Gultom tersebut sudah melahirkan begu Siahaan ini sudah berada diluar rumah mengintip dan dia tidak sendiri, masih ada begu-begu lain yang menunggu. Kemudian begu boru Siahaan yang merasuki si boru Gultom mengatakan bahwa pada hari ke-dua setelah boru Gultom melahirkan ada yang melemparkan garam ke matanya ketika dia mengintip dan itu sangat menyakiti matanya. Lalu begu boru Siahaan mengatakan bahwa dia ingin mengambil roh boru Gultom supaya dia mempunyai teman di dunia roh, hal ini dilakukan boru Siahaan karena di dunia roh dia selalu disingkirkan dan diasingkan, bahkan ketika berjalan pun dia harus berjalan dari samping supaya tidak bertabrakan dengan begu-begu yang lain. Itulah alasan mengapa begu boru Siahaan mengganggu roh boru Gultom yang masih lemah karena baru melahirkan.

d.     Begu Attuk
Begut Attuk merupakan begu yang berada ditempat-tempat keramat dan tempat yang dianggap penting dan bermanfaat bagi manusia ataupun makhluk hidup lainnya, dan perlu diketahu bahwa orang Batak sangat menghargai anugerah-anugerah yang telah diberikan oleh mereka yang berkuasa. Jenis begu ini tidak bersifat jahat, namun ketika seseorang melakukan kesalahan atau melanggar nilai moral (kesopanan) maka begu ini akan menampar dan bahkan memukul seseorang tersebut. Misalnya pada sumber mata air yang berguna bagi makhluk hidup dan ada orang yang mengotori atau berlaku buruk maka begu attuk akan memukul atau menamparnya. Dari nama begu ini pun sudah dapat disimpulkan, karena attuk (bahasa Batak) berarti pukul dalam bahasa Indonesia.

e.     Begu Nur-nur
Orang Batak meyakini bahwa begu nur-nur merupakan begu yang membuat seseorang sakit, karena pemikiran orang Batak kuno yang belum melihat realitas dan hanya menimbang pada kekuatan supranatural. Sehingga setiap ada orang yang sakit atau mati karena penyakit maka hal itu dianggap karena perbuatan begu nur-nur. Jadi, begu nur-nur masuk ke dalam jenis begu yang jahat bagi budaya Batak.

f.       Begu Na So Hasea
Begu na so hasea merupakan begu yang proses meninggalnya tidak wajar, misalnya karena kecelekaan, bunuh diri, mati hamil dan bahkan mati Tilaha, yaitu dengan status belum menikah walau dia sudah tua ataupun masih anak-anak[13]. Hal ini membuat begu ini disingkirkan dalam dunia roh dan bahkan diasingkan. Begu ini termasuk ke dalam jenis begu yang jahat, karena begu ini sangat suka mengganggu manusia. Yang paling jahat dalam begu ini adalah dia yang mati pada saat hamil, dimana begu ini suka menunjukkan diri dan mengeluarkan suara yang menakutkan. Dan begu yang mati hamil akan semakin jahat apabila yang dikandungnya diambil dari kuburan demi kepentingan pribadi.
Orang Batak mempercayai bahwa apa yang dilakukan dalam kehidupan nyata akan dibawa sampai pada kematian dan bahkan ke dalam dunia roh. Orang Batak yang semasa hidupnya memiliki kekuatan mistis yang dipelajari dari guru-guru, karena pendidikan bangsa Batak pada zaman dulu adalah penguasaan terhadap kekuatan supranatural seperti menghilang, menerbangkan benda mati dan lainnya, namun pada saat kematiannya terjadi secara tidak wajar akan membuat roh nya menjadi begu yang sangat kejam karena bisa saja begu nya membunuh manusia. Begu na so hasea inilah yang paling sering mengganggu manusia.

g.     Begu Ganjang
Begu ganjang merupakan begu yang berisfat jahat, dan dari antara semua begu yang jahat dalam bangsa Batak, begu ganjanglah yang paling buruk. Begu ini ada karena perbuatan manusia yang memeliharanya untuk melakukan kejahatan. Begu ganjang sangat dekat hubungannya dengan hasipelebeguon, yaitu orang Batak yang menyembah dan mempermuliakan roh-begu[14].
Begu ganjang berasal dari mayat bayi ataupun anak-anak yang berusia 2 tahun ke bawah yang disebut sebagai “orok”, dimana orok tersebut dimasukkan ke dalam peti. Kemudian disembah, diberikan persembahan-persembahan, dan bahkan dinyanyikan. Hal ini akan terus dilakukan sampai roh orok tersebut tunduk kepada pemeliharanya. Roh bayi tersebut lah yang menjadi begu dan dapat diperintahkan oleh pemeliharanya. Begu ganjang ini pada dasarnya untuk membunuh musuh atau seseorang demi kepentingan pribadi, karena sejak awal begu ini diajarkan untuk membunuh yang pada umumnya dengan cara mencekik.
Begu ini disebut begu ganjang karena pada saat diperintahkan untuk membunuh seseorang, begu ini akan hadir tepat didepan orang yang akan dibunuh tersebut untuk menarik perhatian yang akan dibunuh untuk memperhatikan begu ini dan apabila dilihat ke atas maka wujud begu ini akan semakin tinggi sehingga leher yang akan dibunuh akan terbuka dan mudah untuk dicekik atau dibunuh. Inilah alasan mengapa begu ini disebut dengan istilah begu ganjang. Namun, begu ganjang disebut juga sebagai pangulu baling, yang dapat dikendalikan untuk hal-hal negatif[15].
Berdasarkan wawancara terhadap Ibu boru Gultom, yang pada masa mudanya beliau pernah menyaksikan ditangkapnya begu ganjang oleh orang kampung Ibu tersebut. Dimana kejadiannya berawal dari seorang pemuda yang tidak dikenal masuk ke rumah tetangga Ibu boru Gultom, dan tiba-tiba pemuda tersebut berlari keluar rumah, dimana kepala keluarga tetangga Ibu tersebut mengejar si pemuda. Kemudian pemuda yang tidak dikenal ini masuk ke dalam rumah yang lain dan tiba-tiba berubah wujud menjadi boneka. Bapak yang mengejar tadi menangkap boneka tersebut dengan genggaman yang kuat, dan dihadapan banyak orang boneka tersebut menangis dan menjerit kesakitan. Lalu bapak tersebut menanyakan asal usul begu yang ada di dalam boneka itu, dan boneka itu menjawab bahwa ketika dia meninggal bayi, mayatnya diambil oleh seseorang dan sejak kecil dipelihara dan diberi makanan. Dia mengatakan bahwa dia diajari untuk membunuh dengan cara mencekik, dan dia datang ke rumah itu karena disuruh oleh majikannya.   

h.     Pangulubalang
Pangulubalang adalah roh yang dipelihara untuk menjaga orang Batak dari marabahaya yang datang. Begu ini disembah oleh orang batak, sehingga begu ini masuk ke jenis begu yang di sembah atau dalam budaya Batak disebut dengan istilah sombaon[16]. Pangulubalang ini dipelihara dan diberi makanan, seperti nasi, telor ayam dan bahkan daging. Hal ini dilakukan agar begu ini tunduk dan mau melakukan perintah pemeliharanya untuk menjaga dan melindungi dirinya dari serangan-serangan musuh. Pangulubalang ini biasanya dibuat di suatu kampung, dan apabila bahaya dari musuh datang maka begu ini akan melawan musuh tersebut atau memberitahukannya kepada orang Batak yang tinggal di kampung itu, yang biasanya melalui suara binatang, seperti burung, anjing dan ayam. Terkadang begu ini juga diperintahkan untuk menyerang musuh pemeliharanya. Perlu diketahui bahwa pangulubalang tidak pernah disembah untuk mendapat kehidupan[17].
Namun, berdasarkan sumber yang lain mengenai pemahaman orang Batak mengenai begu menyatakan bahwa ada dua kelas roh yang diakui oleh bangsa Batak[18], yaitu:
a.     Begu
Begu adalah seorang manusia yang meninggal secara tidak sempurna atau tidak wajar, dan pada masa hidupnya berkelakuan buruk dan jahat terhadap manusia lain dan bahkan terhadap alam.
b.     Sombaon
Sombaon merupakan roh yang semasa hidupnya memiliki pengaruh yang besar dalam budaya orang Batak, dan secara adat sudah dikatakan saor matua atau sari matua. Misalnya sosok Sisingamangaraja yang merupakan sombaon bagi orang Batak, karena memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan orang Batak. Roh yang masuk ke dalam kelas sombaon adalah:
-        Pangulubalang
-        Boru Saniang Naga atau
-        Boraspati Ni Tano
Roh yang masuk ke dalam kelas sombaon ini akan mendapat keistimewaan di dunia roh, yaitu kedudukan khusus, sehingga dihormati dan disegani oleh roh-roh (begu) yang berada di sekitarnya.


[1] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 190
[2] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107
[3] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[4] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 191
[5] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107 dan 114
[6] Lih. Dr. Anicetus B. Sinaga, Allah Tinggi Batak Toba: Transendensi dan Imanensi, (Yogyakarta: PT Kasianus, 2014), Hlm. 124-125
[7] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[8] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 102-104
[9] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 101-102
[10] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108-109
[11] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 191
[12] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 100 
[13] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 99
[14] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 193
[15] Lih. J.P. Sitanggang, Batak Na Marserak: Maradat Adat Na Niadathon, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2014), Hlm. 193
[16] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 108
[17] Lih. Raja Patik Tampubolon, Pustaha Tumbaga Holing: Adat Batak - Patik Uhum, (Jakarta: Penerbit Dian Utama dan Kerabat, 2002), Hlm. 260-261
[18] Lih. PH. O. L. Tobing, The Structure of The Toba-Batak Belief In The High God, (Amsterdam: 1963), Hlm. 107